Rabu, 13 November 2013

Saat Bersama Sahabat


Pagi tadi, saya dikunjung seorang sahabat di TK. Senangnya dapat kunjungan, walaupun hanya sekedar mengambil proposal.  

--cerita lain_
bersama sahabat
Siang itu langit masih cerah. Subhanallah. Maka segera saya sms seseorang, “Hari ini jadi, ya!”

Namun, cerah itu hanya sesaat. Hujan seperti tumpah ruah ke bangunan sekolah. Besar sekali. 

Hingga waktu meluncur dengan cepatnya, sore.

Ingin sekali mengsms nya, memastikan jadi atau tidak. Tapi segera kutahan. Tunggu sebentar lagi, mungkin akan reda. Sayangnya, bukan reda, malah tambah deras.

Ingin sekali membatalkan janji hari itu. Bukan karena tak mau datang, tapi hujan hari itu, benar-benar mengkhawatirkan. Apa dia akan baik-baik saja jika pergi di tengah hujan deras? Apa aku juga akan tahan menggigil di motor, memaksakan diri untuk pergi?

Aku mulai mengetik pesan untuknya, “Hari ini hujannya besar, ya? Udah berangkat atau belum?

” Sudah di Mesjid Agung, An,” bunyi sms nya mantap.

Sontak aku berdiri. Segera membereskan barang-barang, dan meluncur ke Mesjid Agung. Hujan memang, tidak apa lah, sudah lumayan reda. Dan ada jas hujan, itu yang paling penting. Khawatir takut ia menunggu lama. 

Hujan rupanya tidak membuat jalanan menjadi macet. Motorku sampai lebih cepat. 

Dalam keadaan menggigil, aku memarkirkan motor, melepas jas hujan, dan berjalan ke arah mesjid. Aku melihat sosoknya dari kejauhan. Wajahnya teduh memandangku. Seulas senyum, kutangkap dari wajahnya.

“Maaf ya, rempong!” kataku padanya.

Ia tersenyum dan mengatakan, “Tetep Kece. Sini saya pegangin. Helmnya titip di sana aja,” sambil menunjuk tempat penitipan sepatu dan sandal. Aku mengikuti sarannya.

Hanya satu tas yang tidak aku simpan. Tas penuh berisi kalender. 

“Tau nggak, kalender ini baru saja bertambah kemarin. Inalillahi!”

 Ditambahin berapa? Tanyanya penasaran.

Delapan, dan deadline nya sekitar tanggal 15/16. Setelah itu, selesai. Bisa nggak ya?” tanyaku sembari menatapnya.

“Bisa, yu kita cobain sekarang?”

Pada akhirnya, aku dan gadis itu berkeliling menjual kalender. Meski  dengan perasaan campur aduk. Antara canggung, takut, malu, dan etah apa lagi. 

Ada hal-hal menarik yang kami temui di sana. Di saat kami menjual, di saat yang sama pula kami melihat seorang ibu berjualan koreka api.

“Katanya harga korek itu Rp 2.000,00. Murah mahal?” tanya gadis manis yang saat itu ada di sampingku.

“Mahal. Tapi, beli aja yu!” 

“Yu.” Jawabnya singkat.

Hal yang kupikirkan ketika membeli korek itu bukanlah korek yang ada dihadapanku. Tapi cerita lain, tentang Bapak Penjual Amplop yang selalu menjual amplop- amplopnya dengan harga murah di Mesjid Salman ITB.

Banyak orang membeli sesuatu karena memang ia benar-benar membutuhkannya. Tapi tidak ada salahnya, kita membeli sesuatu bukan karena kita membutuhkan, tapi karena kita tulus ingin membeli. Bukan untuk kita, tapi untuknya. 

Dan wanita itu tetap semangat menjual korek-koreknya sampai sore hari, berkeliling-keliling ke jalan.
.
Aku dan kawanku saling pandang, saling tatap, kemudian tertawa. 

“Ibu itu aja semangat, jangan kalah Vin,,,,” kataku padanya.

“Kalau kita ngga semangat, inget aja teteh yang di PUSDAI. Bisa kita contoh,,”jawabnya sambil tertawa. Aku mengangguk mengiyakan. 

Dan betapa banyak kejadian lucu yang kami alami. Sambil jualan sambil keliling toko, melihat-lihat baju, “ada ya,,,jualan begini,heehe.” Kami juga melihat suara pengamen tradisional yang mengamen dengan gendang-gendangnya di pinggir jalan, memakai pakaian daerah, seragaan pula. Keren!  Juga merasakan kembali, berjualan ke sembarang orang. 

Hingga waktu berlalu, maghrib berkumandang dengan merdunya. 

“Subhanallah, akhirnya. Hari ini lumayan banyak, Vin. Sebelum tanggal 15.”

---
Ada hal lain yang saya pikirkan, hakikatnya bukan kalender ini yang di jual. Tapi usaha kita dalam mengemban amanah. Sebaik-baiknya orang adalah yang member manfaat. 

Selain bisa bersilaturahmi dengan banyak orang, merasakan bagaimana penolakan orang ketika ditawari kalender, atau bahagia tiada tara karena ternyata mereka menyukai dan bersedia membeli kalender yang kita tawarkan, kita juga bisa ikut berpartisipasi membantu pengumpulan dana lewat kalender.

Ah, pada akhirnya acara diakhiri setelah maghrib.. Aku membuka tasku. 

“Eh, ternyata ani ada minum. Ada makanan juga. Ini tadi dikasih dari TK,” kataku padanya.

“Dasar guru TK.”

Aku nyengir menanggapi ucapannya, “Hehe. Mari kita makan ini sebelum pulang.”

---

Kamis, 23 Mei 2013

Kematian : Pertemuan Dengan Mas Paino



Oleh : Ani Nh Fazia

Padahal, terasa baru kemarin, aku berpapasan dengan lelaki paruh baya itu di jalan. Lelaki itu bersama anak lelaki dan cucunya . Ia menggendong cucu semata wayangnya itu dengan lembut. Terlihat sekali bahwa lelaki itu begitu menyayangi cucunya. 

"Mau kemana ade?" tanyaku pada cucunya itu. Anak itu kira-kira berusia satu tahun. 

"Ke Pasar Baru," jawab lelaki itu sambil tersenyum.

" Aduhh, asik donk. Mau beli baju baru, ya ?  Atau mau beli mainan?" 

"Ah, enggak! Ini mau jalan-jalan. kalu anak-anak lain nangis, mungki ingin dibeliin mainan,    kalau ini enggak. Mintanya selalu jalan-jalan. keliling-keliling aja."
"Ohhh.." ucapku seraya mengangguk.
Tiba-tiba tanpa bisa kutahan meluncur dari mulutku begitu saja, " Bagaimana kalau ke mesjid Agung saja? Daripada ke Pasar Baru. Penuh. Sesak. Adenya juga ga leluasa jalan-jalan!" ucapku sok  meyakinkan.
"Iya kan, De?" sekarang berbalik menatap anak kecil yang sedang digendong itu. " Di sana bisa naik menara. Bisa lihat kota Bandung dari atas menara. Pemandangannya jauh lebih enak. Ada air mancur juga. Dan mesjidnya luas, bisa nyantai. " 

Lelaki paruh baya itu berfikir sejenak, kemudian tanpa banyak bertanya dia menganguk pelan.
           
  " Yu, ke mesjid Agung!" ajak lelaki paruh baya itu itu pada anak lelakinya.
          
  " Dari sini naik apa ya, mbak ?" Anak lelaki paruh baya itu yang kini balik bertanya padaku.
  
Serta merta kutunjukan transportasi yang menuju mesjid Agung. Dan ternyata, saranku itu sukses besar dalam mempengaruhi mereka.

Setelah itu, setelah jarang berpapasan lagi dengan lelaki paruh baya itu. Nyaris tidak pernah. Kejadian itu mungkin sebulan yang lalu. Kabar mengejutkan datang, tetanggaku itu, lelaki paruh baya itu, meninggal dunia.

" Inalilaahi wa inna illaihi raa ji'un." 

Ia meninggal tadi malam pukul 21.00 WIB. Penyakit jantungnya kumat. Lelaki itu meninggal saat dilarikan ke rumah sakit. Sudah tidak kuat lagi dan akhirnya meninggal dalam perjalanan. Dan sekarang sedang dibawa menuju kampong halamannya. Istri dan keluarganya tidak berada di Bandung bersamanya.

Hidup itu tidak akan pernah abadi, tidak sesederhana yang dibayangkan. Dan tidak selalu panjang seperti yang kita harapkan. Ada saatnya manusia kembali pada penciptaNYA tanpa bisa kita halangi.

Entah itu dalam kurun yang lama, atau bahkan dalam waktu yang teramat singkat. Semoga Allah memberi tempat terbaikNYA, mengampuni dosanya, serta memberi kesabaran dan melapangkan hati keluarga yang ditinggal. Aamiin.
---
Di bawah ini diambil dari postingan, entah saya lupa milik siapa... sengaja saya masukkan karena berkaitan dengan catatan saya di atas.


Pada suatu hari "Kematian" dan "Kehidupan" bertemu satu sama lain, lantas mereka ngobrol:

Kematian : "Kenapa orang2 itu menyukai kamu, tapi mereka amat membenci aku?"

Kehidupan (menjawab sambil tersenyum) : "Orang-orang menyukaiku karena aku adalah 'dusta yang indah', sedangkan mereka membencimu karena kamu adalah 'kebenaran yang menyakitkan'."

*Saya suka dengan quote ini--entah siapa yg pertama kali menuliskannya, beberapa bilang Kahlil Gibran, tapi boleh jadi asal quote ini lebih lama dibanding itu. (repost)

....

Sabtu, 26 Mei 2012

Gadis Kecil Berisik


Oleh. Ani Nh Fazia

Amboi, kau begitu cantik gadis kecil
Mungil dalam balutan kerudung putih
Menggemaskan dalam ucap yang kupahami

Namun, hei gadis kecil
Aku kesal hari ini
Kamu terlalu berisik

Biarkan aku sendiri
Mainlah dengan hal lain
Tapi kau malah semakin berisik

Kau ini memang pintar membuat kalah
Terlalu cerewet sampai aku kewalahan
Akhirnya aku menyerah

Baiklah, cukup satu cerita
Dan tidurlah dengan cepat
Maka benarlah adanya, sebelum akhir cerita
Kau sudah terlelap

Tidurlah adik manis
Esok aku akan bercerita kembali
Tentang LAISA* dan tentang cerita lain


*LAISA : Karakter tokoh dalam novel Bidadari-Bidadari Syurga, penulis : Tere liye.

Minggu, 13 Mei 2012

Do'aku, Teruntuk Mimpimu


                                           

Oleh : Ani Nh Fazia
teruntuk anak-anak didik, seorang pembelajar

Kisah ini belum usai anakku
Panjang dan teramat panjang
Tentang kalian, anak-anak syurga
Saat jejak kalian
Dimulai dengan titik
Dan kuamaini tiap detik

Esok ..lihatlah kalian akan menggapai
Satu persatu asa yang mengapung
Tak lagi sekedar angan
Melumat menjadi cita

Dengan teramat khusyu
Kukecup kalian anak-anakku
Dalam doaku, doa gurumu

Dokter, dai, professor, guru  
atau apapun citamu, mimpimu
Teramat yakin ibu katakan
Allah akan merengkuh dan
Memeluk mimpi-mimpi itu,  dekap
( 31 Mei 2012, Bandung,)
Anak-anakku, esok dimana pun kalian berada
Doa ibu (guru) tak akan lepas, sama seperti doa seorang ibu terhadap anaknya
Puisi ini dibuat dan dipersembahkan untuk kalian,  anak-anak syurga
Titipan terindah dari Allah yang kelak akan menjadi kebanggaan
Bukan dari prestasi secara akademik saja,
tapi prestasi moral terhadap orangtua
Itulah sebabnya ibu menamai kalian anak-anak syurga,
Berharap, kalian akan menjadi orang sukses  di dunia atau pun diakherat
Karena, doa-doa orangtua itu selalu bersama dan menyertai kalian
Sehingga Allah akan mengabulkan satu persatu mimpimu, anakku

Salam sayang selalu untuk kalian, anak-anakku
dari gurumu tercinta

Jumat, 04 Mei 2012

Engkau Yang Kucintai


Semoga kata-kata ini menjadi do’a untukku,,Aamiin,,
engkau yang kucintai ,,,
engkau yang di sana, yang selalu aku do’akan meski tak pernah ku tahu siapa dirimu.
engkau yang di sana, yang tak ku tahu apakah engkau merasakan getaran yang sama denganku.
sejak awal aku telah mencitaimu meski tak kutahu siapa dirimu, bagaimana sosokmu, bagaimana wajahmu. Hanya satu yang kutahu, engkau adalah hamba Allah yang telah dipilihkan Allah untukku.
LEBAAAAAAAAAyyyyyyyyyyy,,, (biarin :p)

Allah,
selalu aku mengaharapkan sebuah cinta yang kau titipkan padaku bukan yang aku tanam sendiri.
Ah, mungkin orang akan mengangapku aneh jika aku mengatakan ini. Tapi biarlah, toh tidak akan ada yang tahu inih. Siapa juga yang mau membaca coret-coretanku ini (hmm,,)
Masih berhakkah diriku menentukan siapa pendamping hidupku, sementara telah kuserahkan sepenuhnya  jodohku kepada Engkau, Rabbku?

Dalam setiap doa, selalu aku panjatkan do’a, “ Ya Allah siapapun yang akan akan menjadi pendamping hidupku nanti, berilah ia petunjuk untuk segera menemukanku melalui petunjukMU. Kuatkan niatnya untuk memilihku, mampukan lisannya, mudahan langkahnya. Siapaun dia Ya Allah, berikanlah dia kemudahan dalam segala urusannya, berikanlah kemudahan dalam pekerjaan/usahanya, perindahlah setiap kejadiannya, mampukanlah ia untuk menjadi seorang imam yang dapat aku taati kelak, yang dapat aku iringi langkahnya, yang dapat aku ringankan bebannya kelak. Berikanlah kelapangan bagi hatinya ketika ada suatu masalah sedang menimpanya.

 Ya Allah siapapun yang akan mejadi pendampingku kelak, tolong mudahkanlah bagi diriku untuk masuk menjadi bagian dalam keluarganya. Jadikanlah diri ini sebagai orang yang dapat pula berbaur dengan keluarganya, menerima dan menyayangi mereka dengan ikhlas serta bermanfaat bagi semuanya. Ya Allah jadikanlah pula pendampingku itu menjadi seorang anak  bagi  kedua orang tuaku dan mencintaiku serta keluargaku dengan kesederhanaan (apa adanya).  

Wahai, siapapun engkau di sana. Getaran ini begitu aneh, Meskipun aku mencintai sosok yang bahkan tidak pernah kuketahui siapa dirimu. Tapi satu yang aku yakini, ‘ Suatu saat nanti, siapapun dirimu,  jika Allah mencondongkan hatimu kepadaku begitupun sebaliknya. Bukan karena dirimu lantas aku memilihmu, bukan pula karena diriku sehingga engkau memilihku, tapi karena Allah lah yang telah menautkannya, maka tiada yang berkuasa atas hati ini selain Engkau ya Rabb. Tetapkan dan condongkanlah hati ini untuk menerima pilihanMu, ya Rabb…dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Cinta lawan jenis. _”Tak mudah bagiku untuk jatuh ke dalam cinta, apa ada yang salah dari pikiranku? Seakan hati turut berorasi dan berprinsip “ Cinta itu cukuplah bagi suamimu, bukan bagi orang yang belum halal untukmu.” Maka cukuplah pendampingku kelak yang akan menerima cinta pertamaku dan semoga terakhir pula. Cukuplah pendampingku kelak yang akan menjadi orang pertama yang kugenggam jemarinya, dan kutemani serta kuiringi tiap langkahnya. Cukuplah ia yang kudamaikan hatinya tatkala beban bertumpuk di pundaknya.  Cukuplah ia yang kuizinkan menjaga, melindungi, mendidik dan bertanggung jawab penuh atas diriku dan anak-anak kami kelak. Cukuplah ia yang menjadi lelaki pertama yang menyandarkan kepalanya pada bahuku.

Aku adalah perhiasan terindah bagi suamiku kelak, maka dari itu akan kujaga perhiasan dalam diri ini sampai suatu hari nanti akan indah pada waktunnya. “ Untuk seorang imam yang benar-benar halal bagiku.” Aamiin.


Teringat kata-kata indah dalam sebuah buku yang di tulis oleh (Syaikh Mustofa Al-‘Adawy)
RENUNGAN BUAT SANG ISTRI
dan
RENUNGAN BUAT  SANG SUAMI
(Syaikh Mustofa Al-‘Adawy)

RENUNGAN  BUAT SANG ISTRI
(Syaikh Mustofa Al-‘Adawy)

Wahai sang Istri…
Apakah akan membahayakan dirimu, apabila engkau menemui suamimu dengan wajah yang berseri, dihiasi simpul senyum yang manis di saat dia masuk rumah?

Apakah memberatkanmu, apabila engkau menyapu debu dari wajahnya, kepala, dan baju serta mengecup pipinya?!!

Apakah engkau merasa sulit, jika engkau menunggu sejenak di saat dia memasuki rumah, dan tetap berdiri sampai dia duduk!!!

Mungkinkah akan menyulitkanmu, jikalau engkau berkata kepada suamimu: ”Alhamdulillah atas keselamatan Kanda, kami  sangat rindu kedatanganmu, selamat datang kekasihku.”

Wahai sang istri…
Berdandanlah untuk suamimu dan harapkanlah pahala dari Allah di waktu engkau berdandan, karena Allah itu indah dan mencintai keindahan.

Pakailah parfum yang harum, ber-make-uplah, serta pakailah busana yang paling indah untuk menyambut suamimu.

Jauhi dan jauhilah bermuka masam dan cemberut.
Janganlah engkau mendengar dan menghiraukan perusak dan pengacau yang bermaksud merusak dan mengacaukan keharmonisanmu dengan suami.

Janganlah selalu tampak sedih dan gelisah, akan tetapi berlindunglah kepada Allah dari rasa gelisah, sedih, malas dan lemah.
Jangan berbicara terhadap laki-laki lain dengan  lemah lembut, sehingga menyebabkan orang  yang di hatinya ada penyakit mendekatimu dan menduga hal-hal jelek pada dirimu.

Selalulah dirimu dalam keadaan lapang dada, hati tentram, dan ingat kepada Allah setiap saat.
Ringankanlah suamimu dari setiap keletihan, kepedihan dan musibah serta kesedihan yang menimpanya.

Suruhlah suamimu untuk berbakti kepada ibu bapaknya.
Didiklah anak-anakmu dengan baik. Isilah rumah dengan tasbih, tahlil, tahmid, dan takbir, perbanyaklah membaca Al-Qur’an terutama surat Al-Baqarah, karena surat itu dapat mengusir setan.

Bangunkanlah suamimu untuk melaksanakan shalat malam, doronglah dia untuk melakukan puasa sunah, ingatkan dia akan keutamaan bersedekah, dan janganlah engkau menghalanginya untuk menjalin hubungan silaturrahim dengan karib kerabatnya.

Perbanyaklah beristigfar  untuk dirimu, suamimu, serta kedua orang tua dan seluruh kaum muslimin. Berdo’alah kepada Allah, agar dianugerahkan keturunan yang baik, niat yang baik serta kebaikan dunia akhirat. Ketahuilah sesungguhnya Rabbmu Maha Mendengar do’a dan mencintai orang yang nyinyir dalam meminta. Allah berfirman:”Dan Rabbmu berkata: “ Serulah Aku niscaya Aku penuhi do’amu.” (Al-Ghafiir: 60 )

RENUNGAN  BUAT  SANG SUAMI
(Syaikh Mustofa Al-‘Adawy)

Wahai sang suami…
Apakah berat bagimu, untuk tersenyum dihadapan istrimu di kala dirimu masuk menemui istri tercinta, agar engkau meraih pahala dari Allah.

Apakah membebanimu untuk berwajah yang bersera-seri tatkala dirimu melihat anak dan istrimu?!!
Apakah menyulitkanmu wahai hamba Allah, untuk merangkul istrimu, mengecup pipinya serta bercumbu disaat engkau menghampiri dirinya?!!

Apakah gerangan yang memberatkanmu untuk mengangkat sesuap nasi dan menyuapkannya di mulut sang istri, agar engkau mendapat pahala?!!

Apakah susah, apabila engkau masuk rumah sambil mengucapkan salam dengan lengkap : “Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh” agar engkau meraih 30 kebaikan?!!

Apakah gerangan yang membebanimu, jika engkau menuturkan untaian kata-kata yang baik yang disenangi kekasihmu, walaupun agak terpaksa, dan mengandung bohong yang dibolehkan?!!

Tanyalah keadaan istrimu di saat engkau masuk rumah!!

Apakah memberatkanmu, jika engkau menuturkan kepada istrimu di saat engkau masuk rumah: “Duhai kekasihku, semenjak  Kanda keluar dari sisimu, dari pagi sampai sekarang, serasa bagaikan setahun.”

Sesungguhnya, jika engkau benar-benar mengharapkan pahala dari Allah walaupun engkau dalam keadaan letih dan lelah, dan engkau mendekati sang istri tercinta dan menggaulinya, niscaya dirimu akan mendapatkan pahala dari Allah, karena Rasulullah bersabda : “Dan di dalam mempergauli isteri kalian adalah sedekah.”

Apakah melelahkanmu wahai hamba Allah, jika engkau berdo’a dan berkata: “ Ya Allah perbaikilah istriku dan berkatilah daku pada dirinya.”

Sesungguhnya ucapan baik itu adalah sedekah. Wajah yang berseri dan senyum yang manis di hadapan istri adalah sedekah.

Mengucapkan salam mengandung beberapa kebaikan.
Berjabat tangan menggugurkan dosa-dosa.

<<<, Begitu menyentuh,,Semoga dapat kuamalkan kelak, ya Rabb,,aamiin >>>>