Tampilkan postingan dengan label Esay. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esay. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 April 2016

Siapkah Diri Anda Menjadi Orang Tua?

Juara Ketiga Lomba Esai KK-II FLP 2013
Siapkah Diri Anda Menjadi Orang Tua?
Oleh : Ani  Nh  Fazia
Menjadi orang tua bukanlah pekerjaan mudah. Lantas hal apakah yang harus dilakukan untuk menjadi orang tua yang ideal bagi anak?
Pernahkan Anda sekalian mendengar kata-kata seperti ini ?
JIka anak dibesarkan dengan celaan,
dia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan,
dia belajar menentang.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan,
dia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan rasa malu,
dia belajar merasa bersalah.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan,
dia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi,
dia belajar menjadi penyabar.
Jika anak dibesarkan dengan pujian,
dia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan penerimaan,
dia belajar mencintai.
Jika anak dibesarkan dengan peneguhan,
dia belajar untuk menyukai diri sendiri.
Jika anak dibesarkan dengan kejujuran,
dia belajar kesejatian.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman,
dia belajar untuk mempercayai diri sendiri dan orang lain.
Jika anak dibesarkan dengan persahabatan,
dia belajar bahwa dunia adalah tempat yang indah untuk hidup
Dorothy Law Nolte ( Marty, 2005: 36)


Bagi para orang tua yang baru saja mengetahui kata-kata di atas, saya ucapkan selamat untuk segera mempraktekannya.  Meskipun, saya juga tidak terlalu yakin, kalau orang tua yang  sudah mengetahui tulisan itu beberapa waktu lalu, apakah mereka  telah mempraktekannya, atau mungkin hanya dianggap angin lalu ?
Apakah Anda tahu, anak adalah aset yang paling berharga?
Lantas, ketika Anda dititipi anak oleh sang Pencipta, kenapa Anda justru menjadikannya objek sasaran baku tembak yang siap di Drill, atau dijejali dengan segudang keinginan Anda. Lebih parahnya lagi, anak  dijadikan sesuatu tak nilai yang bisa dikendalikan.
Sebelum membahas lebih lanjut tentang bahasan di atas, marilah kia berjalan-jalan untuk mendengar kisah yang satu ini.

Di  ambil dari buku berjudul, “Anakku Seorang Skizofrenik !” yang ditulis oleh Beth Henry dan Vincent L. Pastore, Ph. D.
Buku tersebut menceritakan tentang perjalanan seorang ibu tiri dalam menangani seorang anak skizofrenia.   
Awalnya, anak tersebut sehat walafiat alias normal. Namun, sang ibu kandung kurang memperhatikan kondisi anak. Dia bersikap acuh tak acuh kepada anaknya sendiri. Sang ibu kandung dan sang ayah pun kerjanya hanya menghabis-habiskan waktu untuk perang mulut. Walhasil, cerailah keduanya.  
Sang anak berhasil diambil hak asuhnya oleh ibu kandungnya. Begitulah cinta yang tidak didasari dengan keimanan dan nafsu sesaat “ Putus Tengah Jalan..”
Apakah sang anak bahagia?  Kenyataan berkata lain, mulai dari pakaian, makan, kegiatan, perlakuan, semua amburadul.   
Si ibu malah lebih menghabiskan waktu dengan kekasih barunya, si ibu juga sering menitipkan anaknya untuk diasuh dan dirawat oleh kekasihnya itu. Perlahan, anak yang sangat manis itu berubah menjadi kumal, tidak terawat, parahnya lagi mungkin menjadi seorang “Monster”
Si ayah yang melihat kondisi anaknya tidak terurus memutuskan untuk membawa sang  anak tinggal bersamanya. Sang ibu kandung menyetujui dan mengizinkan sang ayah untuk membawa anaknya tersebut.

Saat itu, si ayah sudah menikah dengan wanita lain. Dia juga sudah mempunyai anak dari istri barunya. Ketika dibawa kehadapan ibu tirinya. Sang ibu tiri kaget luar biasa ,,,anak tirinya itu benar-benar dalam kondisi mengkhawatirkan, kurus, kering dan tidak terawat. Sang ibu tiri yang baik itu pun merawat anak tadi dengan kasih  sayang tanpa membeda-bedakan.  
Parahnya adalah, anak tersebut benar-benar sudah menjadi iblis. Kenapa disebut iblis?

Inilah beberapa tingkah laku yang sangat tidak wajar dilakukan anak.

Dihadapan yang lain si anak bersikap manis, namun di suatu waktu dia bisa berubah menjadi sosok lain yang sangat berbeda. Anak ini mempunyai kepribadian ganda yang sulit ditebak. Sering sekali si Anak menghabiskan waktu untuk mengobrol bersama dengan suatu makhluk yang sebenarnya tidak ada. Dia memanggil makhluk itu dengan sebutan setan.
Halusianasinya telah mencapai tingkat tinggi yang terkadang dia sendiri tidak menyadari mana yang halusianasi dan mana yang asli. Dia mempunyai dunia sendiri yang tidak bisa dimasuki atau dijamah siapa pun.
Di sekolah, anak tersebut sering bersikap tidak normal. Pasalnya, dia selalu mengganggu anak perempuan dan dengan sengaja memegangi kemaluan anak perempuan tersebut.
Anak itu tak henti membuat kekacauan, dia bahkan sering memukul teman-temannya, dan bersikap tidak senonoh terhadap teman perempuannya.
Bukan hanya itu, dia juga tidak segan-segan menancapkan pensil pada kedua bola mata sang kakak tiri. Anak itu tidak pernah menyesal dengan perilakunya, dia malah merasa senang dan puas telah melakukan hal tersebut.   
Nafsunya untuk melukai orang-orang disekitarnya benar-benar tidak terkontrol. Dia bahkan tidak segan untuk membunuh orang. Padahal usianya baru 5 tahun. Anda bayangkan, anak sekecil itu?
Meskipun sang ibu tiri selalu memberikan cinta kepada sang anak, rupanya hal tersebut tidak berpengaruh sama sekali.
Anak tersebut malah sering melakukan berbagai cara untuk melenyapkan nyawa adik bayi tirinya.

Pernah suatu waktu si anak dengan sengaja mengambil pisau dan hendak menghunuskannya ke adik bayinya itu. Ibu tirinya yang melihat kelakuan anaknya merasa ketakutan, ia berlari mengambil bayi itu dan berusaha menghindari sang anak.
Sang anak yang melihat ibunya ketakutan hanya tertawa dan mengejar puas. Menggedor-gedor pintu yang dikunci sembari membawa-bawa pisau. 
Hal apakah yang menyebabkan anak sedemikian parahnya? Segala obat telah dicoba, ia pun telah menjalani pengobatan di rumah sakit dengan biaya yang sangat mahal. Tetap saja, usaha ini sia-sia.
Bapak dan ibu tahu kenapa? Karena anak tersebut menderita penyakit skizofrenia. Suatu penyakit yang sampai saat ini belum ada satu pun obat yang bisa menyembuhkan kecuali mengurang gejalanya saja.

Sebenarnya, apa penyebab anak mengalami gangguan yang luar biasa seperti itu? Tekanan apa yang melatar belakanginya?

Ternyata, anak yang tadinya normal tersebut mendapatkan perlakuan yang amat biadab dari kekasih ibu kandungnya.
Tiap pagi , si anak di suruh menyedot alat vital si kekasih ibunya. Si anak mengaku, ia merasakan dari alat vital yang di sedot itu keluar cairan berwarna putih yang selalu dimakannya tiap pagi. Kekasih ibunya itu  pun sering sekali menyiksa anak dan memasukannya ke kamar mandi, merendamnya selama berjam-jam di dalam bak.
Itu bukan apa-apa.,,    Hal yang paling mencengangkan adalah perlakuan dari ibu kandungnya sendiri yang tidak waras. Sangat tidak masuk akal?
Apa mungkin ada seorang ibu yang menodai kehormatan anaknya sendiri? Kenyataannya memang seperti itu. Sang ibu sering menggigit dan menyedot alat vital anak tersebut, berbuat tidak senonoh kepada anak kandungnya sendiri. Perbuatan yang membuat siapa pun yang mendengar merasa sesak dengan perbuatan sang ibu.
Apakah anak tersebut sembuh?  Sampai dipenghujung cerita, anak tersebut tidak dapat kembali ke sifatnya seperti sedia kala. Panyakit yang pada akhirnya harus membuatnya tinggal di rumah sakit khusus. 
Cerita ini benar-benar diambil dari kisah nyata !!
Seringkali orang tua berkata, “Surga itu ada di telapak kaki, ibu”, “Seorang anak harus patuh dan taat kepada orang tuanya!”, “Jangan jadi Anak durhaka, Kamu!”

Ya, itu memang benar adanya. Tetapi, apa Anda tidak pernah merasakan menjadi seorang anak?  Kilas balik, bagaimana rasanya?
Sebagai orang tua yang bijak, tentu akan lebih baik lagi jika kita memahami dan mengenali kondisi psikologis anak. Cobalah untuk memaafkan kesalahan anak, duduk bersama-sama dengan anak, menjadi teman berbaginya dan lakukan pendekatan yang baik dengan anak.
Semakin dewasa seorang anak, maka keegoannya semakin tinggi, dia menjadi sosok yang tidak mau di tentang dan di atur. Dia ingin bebas, dia ingin keinginannya didengar oleh orang tuanya.  
Orang tua pun tentu seperti itu, merasa tinggi, ingin dihormati, ingin di segani, ingin anaknya tidak melawan dan ingin anaknya bersikap tidak memusuhi.
Tapi kita harus ingat!
Anak bukanlah robot atau malaikat yang diam dan tunduk mengikuti semua aturan. Anak kita adalah milik Allah , dia itu hanya titipan sementara.
“Keteladanan itu lebih berguna dan bermakna  dibanding dengan seribu kata-kata!” Jika Anda menginginkan anak anda menjadi seseorang yang taat. Maka penuhilah hak-hak anak. Anda tahu betapa Rasulullah adalah seseorang yang begitu penyabar dalam menghadapi anak-anaknya?
Anak yang baik, dihasilkan dari cara didik yang baik. Bukan dalam artian mengerasi anak atau malah memanjakan anak secara berlebihan.
Sebagai contoh kecil, “Apa yang anda lakukan ketika melihat anak anda pulang malam, tanpa memberi kabar sebelumnya?”  Inilah hal yang mungkin anda katakan, “Kemana saja kamu, pulang jam segini, tidak  malu apa?”
Sadar atau tidak, kata-kata tersebut secara tidak langsung telah menjauhkan diri Anda dengan sang anak. Telah membuat garis pemisah yang sangat lebar, telah membuat pengurangan harga diri Anda dihadapan sang anak, telah membuat ketakutan sekaligus penanaman rasa benci dalam diri anak untuk mulai berontak.
Akan ada respon lain (positif) ketika Anda berkata, “Baru pulang, sayang? Kamu bersihkan muka dulu ya, ibu nanti mau berbicara sebentar sama kamu, “ ucapakan hal tersebut dengan suatu sentuhan yang ditujukan kepada anak.
Survey membuktikan, suatu hubungan akan semakin harmonis jika di dalam hubungan tersebut terdapat kontak fisik secara langsung “meski pun hanya sebuah sentuhan,”

Anda jangan merasa malu berbuat seperti itu terhadap anak. Anda juga jangan merasa gengsi  untuk mengucapkan maaf  atau mengucapkan terimakasih  kepada anak. Bukankah itu hal yang baik untuk membiasakan anak melakukan hal yang sama seperti yang Anda lakukan?  
Cerita lain agar anak Anda ter-ajak tanpa merasa diajak. Pertanyaanya adalah, bagaimana  cara Anda dalam mempengaruhi sang anak?  Kita ambil contoh “ Sholat!” sesuatu yang terkadang sulit diterapkan kepada anak.
Mungkin Anda akan marah-marah jika anak di suruh shalat tapi tidak mau, atau malah bersikap  masa bodoh karena menganggap anak masih kecil. Jadi untuk shalat “ tidak terlalu penting.”
Ingat, pembiasaan itu di mulai dari kecil. Jika anak dibiasakan sedari kecil, maka kebiasannya tersebut akan terbawa hingga dia dewasa.
Untuk mengajak anak shalat beri ajakan seperti ini,  “ Siapa yang mau ke syurga, di syurga enak lho kita bisa minta apa pun yang kita mau. Tempatnya juga indah, banyak mainannya, banyak makanannya. Nah, Kalau mau lihat syurga, kita harus rajin shalat . Siapa yang mau shalat bareng Bapak? Yuuu,,,,”
Lebih efektif mana dengan kata-kata ini,” Anak-anak, ayo kita shalat. Kalau tidak  shalat nanti masuk neraka. Mau tidak  masuk neraka ?Ihh,” kata-kata ke dua ini lebih ke pengancaman, belum apa-apa anak sudah takut duluan.
Atau mungkin, “Cepat shalat, malas  amat! Kamu sudah besar, mikir, mau jadi apa kalau tidak pernah shalat? Wah-wah, kata-kata ini malah lebih kasar lagi. Anak bukan saja terancam tapi ia akan membuat pertahanan kuat untuk membantah.
Tiga-tiganya bisa di pakai, tapi pikirkan mana kata-kata yang lebih baik bagi psikologis anak?
Tentu saja sebelum Anda mengajak, Anda harus terlebih dahulu mempraktekan dan mencontohkannya. Jangan hanya menyuruh anak, Anda sendiri tidak pernah melakukannya! Apa mungkin didengar oleh anak?
Seorang guru yang mengajar di suatu TK, mungkin akan menemukan berbagai macam karakter anak.  Ada anak yang diam, cerdas, pasif,  terlalu aktif (sering menjahili teman-temannya), dan juga berbagai krakter lain yang unik.
Kita tidak bisa menyalahkan anak dengan berbagai perilaku yang menurut kita “sangat menjengkelkan!”  Cobalah mulai untuk memahami karakter anak.

Anda orang tuanya, jadi anda yang paling mengetahui bagaimana kondisi anak. Separah-parahnya kondisi lingkungan luar / pergaulan di luar rumah, hal tersebut tidak akan mengefek kepada anak selama anak diberikan pondasi  yang kuat mengenai keimanan dan taqwa, tanggung jawab, kepercayaan, dan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Senakal-nakalnya anak, jangan pernah mengatakan anak itu adalah anak yang nakal. Tapi pujilah dia dengan sebutan “Anak yang Shaleh dan Baik.” Pujian dapat  memberikan  suatu keberanian dalam dirinya untuk mengatakan “ Saya itu seseorang yang baik, ibu saya saja sering memuji.”
Berbeda dengan sikap anda yang sering mengejek anak, atau malah mencap anak dengan sebutan anak nakal. Anak bukannya jera dengan hal itu, dia malah akan bertanya dalam dirinya, “Apakah saya benar-benar nakal? Saya itu anak bodoh yang nilainya selalu jelek? Ya sudah, kalau begitu anggapan ibu, saya akan benar-benar seperti apa yang dikatakan mereka.
Keberhasilan seorang anak itu sebenarnya tergantung dari bagaimana orang tuanya dalam mendampingi sang anak, terutama peranan seorang ibu tanpa mengesampingkan ayah.
Seorang Toto Chan  tidak akan besar tanpa ibu yang mendampingi, seorang Thomas Alfa Edison tak akan menjadi ilmuan tanpa bimbingan sang ibu, atau seorang Jamil Al-jaini tidak akan menjadi seorang motivator tanpa suntikan dorongan dari sang ayah.  Ya, banyak orang-orang besar yang tadinya dianggap tidak berhasil tapi malah menjadi orang yang sukses. Siapa dibalik semua itu. Ibu dan ayah tentunya! Ibu dan ayah yang bijak dan selalu memotivasi sang anak.
Ingat, bagaimana anak kita nanti, mau seperti apa anak kita? Tergantung dari orang tuanya sendiri yang menamankan perilaku awal.
Anak itu seperti kertas putih, mau seperti apa nantinya, orang tua lah yang terlebih dahulu mengukirnya pada kertas putih itu.
Banyaklah membaca, banyaklah memahami, banyaklah mengerti, banyaklah mendengar dan banyaklah belajar barulah anda akan memahami bagaimana orang tua harus bersikap terhadap anak.
Warisan yang paling berharga yang diberikan kepada anak bukanlah harta tapi ilmu. Ilmu yang jika dibagi  bukannya berkurang tapi bertambah, ilmu yang tidak harus di jaga malah akan menjaga.
Ilmu yang membuatnya menjadi kaya dengan kearifan, ilmu yang membuatnya menjadi seorang yang bijak, ilmu yang membuatnya menjadi anak shaleh/ shalehah kebanggaan bagi kedua orang tuanya. Semoga kita dijadikan orang tua yang memberi kenyamanan dan keteladanan bagi anak.
Walahu’alam bi shawab.

                                                       Bandung, Februari 2011 

                                        

Nb. Meskipun saat ini saya belum menikah dan mempunyai seorang anak, saya berharap suatu saat nanti saya dapat menjadi ibu yang dapat memberikan rasa nyaman terhadap anak-anak saya kelak. Menjadikan rumah sebagai syurga yang menentramkan. Baiti jannati, aamiin. Mohon doanya.

Kamis, 20 Maret 2014

Belahan Otak

 Oleh : Ani Nh Fazia
20 Maret 2014 pukul 20:46

Dalam rumus matematika satu ditambah satu selalu menghasilkan dua. Empat dikali empat. Otak akan langsung merespon dengan angka enam belas. Sehingga, matematika selalu dikaitkan dengan logika. Pasti dan tetap.

Dalam rumus lain, misalnya pelajaran bahasa Indonesia. Ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak mengharuskan kita untuk menjawab dengan jawaban sama. Bisa jadi jawaban sama malah akan disalahkan oleh guru bahasa Indonesia. Dibutuhkan kemampuan mengarang dan wawasan luas dalam membuat suatu kalimat utuh.

Dikaitkan dengan kemampuan otak. Beberapa ahli mengatakan bahwa otak manusia terbagi menjadi dua, otak kanan dan kiri. Dalam seminar lain, disebutkan bahwa otak manusia terbagi menjadi tiga bagian, kanan, kiri, tengah. Bagian-bagian tersebut memiliki kecenderungan fungsi yang berbeda. Kanan untuk kreativitas, kemampuan intuitif, kemampuan merasakan, memadukan, dan ekspresi tubuh. Kiri memiliki kecenderungan untuk lebih menggunakan logika, rasio, dan analis. Kanan lebih pada rasa/ diambang bawah sadar. Bagian tengah merupakan perpaduan diantara kedua belahan otak, dia mampu merasakan sesuatu, misalnya : tahu letak piring/ garpu sekali pun dengan mata tertutup.


Anehnya, dalam penelitian yang dilakukan University of Utah menyebutkan bahwa, keyakinan tentang kemampuan dominan otak hanya mitos belaka.  Setelah dilakukan beberapa penelitian pada 1.000 lebih sampel otak, nyatanya orang-orang tersebut tidak ada yang dominan menggunakan salah satu bagian otak.  Semua berjalan saling berhubungan/ seimbang yang melibatkan kemampuan dari otak kanan dan kiri. Ada pun seseorang yang dalam satu waktu lebih menggunakan bagian otak tertentu, itu untuk menjalankan fungsi khusus yang disebut lateralisasi. Tapi bukan berarti kecenderungan pada salah satunya.

Entahlah yang mana yang benar. Anggap saja penelitian di atas  mempunyai kekuatan yang sama. Hanya saja saya ingin memfokuskan pada kemampuan masing-masing otak.

Jika dikaitkan dengan Impian. Seseorang yang mengandalkan logikanya/otak bagian kiri akan berfikir berulang kali jika impiannya tidak masuk akal. Sehingga banyak ketidakmungkinan yang akan bersarang dalam pikirannya. Saat kemampuan intuitifnya muncul atau otak kanan merespon, maka ketidakmungkinan tersebut akan dibabat habis. Sehingga yang muncul adalah plan-plan yang teramat memotivasi dalam meraih impiannya tersebut. Maka ketidakmungkinan akan berubah menjadi “bisa” dalam kamus hariannya.

Kembali ke soal matematika dan bahasa Indonesia. Jika kita kaitkan dengan sedekah yang dikeluarkan. Matematika seolah menjadi tumpul. Karena satu ditambah dengan satu bisa jadi berpuluh-puluh atau beratas kali lipat. Angka ini bisa dianalogikan dengan pahala yang didapat. Dan Subhanallahnya lagi, angka ini bukan saja dianalogikan pahala. Di lain kesempatan, angka ini benar-benar menjadi angka nominal dalam bentuk materi yang berkali lipat.

Berlanjut pada cinta. Bagaimana otak kanan dan kiri berbicara cinta?

Pada saat otak manusia berpikir tentang cinta. Maka logika dan intuitif  perlu dimunculkan secara bersamaan. Otak kiri dan kanan harus seiring. Cinta tanpa dasar logika akan buta, sedang cinta tanpa rasa, tanpa intuisi menjadi hambar tanpa tujuan.

Dasarnya cinta ini adalah baik. Dalam penggunaannya cinta ini akan sesuai pada jalurnya atau bisa jadi lari dari makna sebenarnya.

Seseorang yang bermabuk-mabukan mengatakan cinta terhadap alkohol. Seseorang yang mencari dan menumpuk harta tanpa spiritualitas menjadikannya cinta materi. Seorang istri/ suami yang selingkuh/tidak menjaga kehormatannya dan berpaling dari suami/ istri sahnya mungkin disebut cinta juga. Seseorang yang mati-matian mengagungkan sosok yang dikaguminya bisa jadi adalah cinta. Seseorang yang rela memberikan kehormatan dirinya tanpa pernikahan terhadap lawan jenisnya bisa jadi disebut cinta. Seseorang yang rela meninggalkan agamanya karena menginginkan kebahagiaan dirinya bisa jadi cinta juga. Seseorang yang tidak shalat karena sibuk bekerja disebut cinta kerja.

Pertanyaannya, cinta seperti itukah yang dicari? Cinta seperti itukah yang diinginkan? Cinta seperti itukah yang kita tukar dengan aqidah diri? Menjadikan tandingan-tandinganNya sebagai cinta yang kita pahami.

Ketika sesuatu lebih dicintai dariNYA, maka sesungguhnya ia telah kehilangan makna cinta itu sendiri. Pada saat rasa kehilangan “makna” masih juga tidak dirasakan, masih tidak peka dengan makna hakiki cinta, maka perlahan tapi pasti. Cinta yang bersumber dariNYA, cinta yang ditanam olehNYA, cinta yang benar-benar murni dariNYa perlahan akan tertutup, sehingga redup yang tersisa. Maka cukup, cinta seperti itulah yang ia yakini. Dan Allah akan hantarkan dirinya dengan orang-orang yang mempunyai pemahaman cinta yang sama. Entah itu salah atau benar dalam pandangan dirinya.

Walahu’alam bi shawab.

                                                                                                                                 by. Ani Nh Fazia
                                                                                         Kamis, 20 Maret 2014

Selasa, 16 Agustus 2011

Gelas Kosong , Setengah Isi, atau Setengah Kosong?


MARI BERFIKIR BAGI YANG MAU BERFIKIR
Oleh : Ani Nurhayanti Fazia

Jika Anda sekalian ditanya? Ingin menjadi gelas kosong atau setengah isi setengah kosong, jawaban apakan yang akan Anda berikan?

Ada dua perumpamaan.

Pertama :
 Mungkin kita pernah membaca sebuah buku, ‘Half Full Half Empty.’
Ketika kita di suruh melihat sebuah gelas yang di dalamnya terdapat sedikit air ? Apa yang akan Anda katakan?
Apakah setengah isi atau setengah kosong?
Tentu, keduanya memiliki cara pandang yang berbeda.

Kedua:
 Sudahkah Anda menemukan jawabannya dari perumpamaan pertama?
Jika Anda bilang, “ Saya melihat gelas tersebut setengah kosong.” Maka saya tidak mewajibkan Anda membaca lanjutan dari tulisan saya ini. Namun, apabila Anda menjawab, “ Gelas itu setengah isi,” maka saya mewajibkan Anda membaca perumpamaan kedua ini.

Oke, jawabab Anda  “ setengah isi.“ Kenapa Anda bisa menjawab seperti itu?  Padahal sahabat saya pernah berkata, “ Jadilah gelas kosong agar kamu bisa memahami orang lain.” Itu pun dia dapatkan dalam sebuah buku yang di baca kakaknya.

Kenapa harus seperti gelas kosong?

Begini ceritanya ( sahabatku Riri maaf ya, kalau kata-katanya tidak sama, saya berusaha menulis apa yang saya fahami dari kata-katamu J ).

Ketika sahabatku itu duduk di sebuah kereta, dia sempat bercakap-cakap dengan seseorang. Orang tersebut berbicara panjang lebar. Sesungguhnya dan sebenarnya, dia sudah lebih mengetahui cerita yang diungkapkan oleh orang tersebut. Sejujurnya dan sebenarnya pula,  dia mempunyai pendapat  tersendiri  yang berbeda cara pandang dengan orang itu. Akan tetapi, ia memilih pura-pura tidak tahu dan bersikap antusias terhadap apa yang dibicarakan orang tersebut. Sehingga, orang tersebut mungkin akan berfikir ‘Senangnya bisa berbagi ilmu kepada orang lain.
Bayangkan jika sahabat saya berkata, “ Ya, sudah tahu! “  atau mungkin , “Bukan gitu da  yang saya tahu mah,  salah itu!”  Bagaimana perasaan orang tersebut.?
Secara tidak langsung,  ketika kita merasa menjadi sebuah gelas yang berisi. Kita akan menjadi congkak, merasa benar dengan apa yang telah kita pahami sebelumnya, sehingga kita kurang simpatik, kurang bisa menerima dengan apa yang diungkapkan oleh orang lain dan kurang memahami apa yang diinginkan orang lain. ( Apakah ketika saya menuliskan ini Anda telah berfikir seperti itu kepada saya? Merasakan bahwa saya telah sok tahu?  )
Akan tetapi, jika kita menjadi gelas kosong untuk sejenak. Kita akan mudah mendalami perasaan orang lain. Kita akan mudah berbaur dengannya, memahami karakternya,  membuat dirinya merasa dihargai, dan mengetahui bagaimana cara yang tepat dalam memberikan solusi/ pendapat padanya.

Bagaimana? Kedua perumpamaan tersebut sangat kontras bukan.

Ketika kita memilih gelas setengah isi, maka kita mempunyai semangat yang tinggi dalam meraih sesuatu. Kita menjadi seseorang yang tidak mudah putus asa dan berfikir maju ke depan. Memandang segala sesuatu mempunyai berbagai solusi.

Di sisi lain kita disuruh untuk menjadi gelas yang setengah isi,  dan dalam waktu bersamaan pula, kita di suruh untuk menjadi gelas kosong.
Pendapat Anda?

Apakah tetap ingin menjadi gelas setengah isi atau  mungkin menjadi gelas kosong?

Silahkan berfikir dan mulailah berbagi jawaban Anda.